Special thanx to Mr.Kendhin
Special thanx to Mr.Kendhin
Matador Cilik umur 11 tahun Bunuh 6 Banteng
MERIDA, SELASA — Michel Lagravere Peniche mencetak rekor sekaligus kontroversi. Bocah 11 tahun itu kini tercatat sebagai matador termuda yang berhasil menewaskan banteng terbanyak (enam ekor) dalam satu pertarungan.
Video rekaman pertarungannya telah dikirimkan ke Buku Rekor Dunia Guinness untuk mendapat pengesahan gelar matador termuda dengan korban terbanyak. “Saya senang sekali berhasil meraih prestasi ini,” kata bocah yang biasa dipanggil Michelito itu saat meninggalkan gelanggang pertarungan di Kota Merida, Meksiko, Jumat (23/1).
Namun, kejayaan Michelito justru menuai kecaman dari lembaga-lembaga perlindungan anak dan kelompok anti-adu banteng (bullfighting). “Ini bentuk kekerasan terhadap anak. Dia diajar membunuh banteng untuk kesenangan sejak kecil. Hal ini akan menimbulkan gejolak di Meksiko dan seluruh dunia. Sayang sekali anak seusia itu rusak sejak awal,” kata juru bicara Liga Melawan Olahraga Kejam.
Upaya pemecahan rekor oleh Michelito itu sempat tertunda karena pelarangan oleh Wali Kota Merida. Alasannya, tidak sah bagi anak di bawah 18 tahun untuk berpartipasi dalam pertunjukan dengan risiko tinggi.
Tetapi kejaksaan tinggi negara bagian Yucatan membatalkan pelarangan itu beberapa jam sebelum adu banteng itu digelar. Ini berkat banding yang diajukan Michel Lagravere, ayah Michelito, yang mantan matador asal Prancis.
Penampilan Michelito mengundang decak kagum sekitar 3.500 penonton di Merida. Di jagat adu banteng, bocah itu memang sudah punya nama. Kariernya sebagai matador dimulai sejak dia berumur empat tahun. Kali pertama melawan banteng saat usianya mencapai enam tahun.
Dia membunuh banteng pertamanya saat berusia sembilan tahun. Hingga kini dia telah menjalani 100 adu banteng di seluruh dunia. Puluhan banteng pun kehilangan nyawa di tangannya.
Michelito dan ayahnya tidak memedulikan berbagai kecaman. “Yang menentang adu banteng seharusnya tidak ikut campur. Toh tidak ada yang memaksa mereka nonton atau mencari informasi tentang adu banteng. Merepotkan saja,” ejek Michelito.
Tahun lalu, bocah ajaib itu mengundang kecaman dari masyarakat Prancis saat dia bersafari adu banteng di negeri ayahnya itu. Beberapa kota mencekalnya setelah kelompok-kelompok anti-adu banteng berkampanye di seluruh negeri.
Di Spanyol, tempat asal olahraga ini, Michelito tidak bisa bertanding karena batasan minimal usia matador adalah 16 tahun. Dia kemudian lebih banyak tampil di negara-negara Amerika Latin yang aturannya lebih longgar.
“Saya tidak punya alasan untuk melarangnya. Orang-orang yang mengikuti perjalanan karier anak saya pasti melihat bahwa Michelito memiliki kualitas istimewa,” ujar Diana Peniche, ibunya. “Tidak ada yang bisa melarang saya bertarung. Banyak orang melempari saya uang, tapi saya tidak mencari uang. Itu nanti datang sendiri. Saat ini saya hanya ingin melawan banteng. Saya dilahirkan sebagai matador dan akan mati sebagai matador,” ujarnya tegas.kis
SAS
Sumber : BBC
Barack obama
Oleh Simon Saragih
BARACK Obama (46) telah mencatat sejarah, menjadi calon presiden AS kulit hitam pertama dari Partai Demokrat. Ini terjadi di negara yang selama ratusan tahun telah menjadikan kulit hitam sebagai budak dan sempat melahirkan perlawanan.
Namun, ia tidak hanya mencatat sejarah. Ia menapaki kehidupan pahit, ditinggal ayah (Barack Hussein Obama asal Kenya), yang punya tiga istri lain, selain ibu kandung Obama, Stanley Ann Dunham. Ibu kandungnya pun kemudian menikah dengan Lolo Soetoro.
Ia menjadi sebatang kara setelah ibunya memilih pergi ke Indonesia, mengikuti suami keduanya itu. Setelah sempat tinggal di Indonesia, Obama memilih kembali ke Hawaii, tinggal bersama kakek dan nenek kulit putih. Pergulatan hidup dimulai karena hidup tanpa orangtua kandung, diiringi segregasi ras lingkungan di Punahou, Hawaii. Ibunya, Ann, pernah mendapatkan buku harian Obama yang mengisahkan, ”Siapakah diri saya ini?”
Di tengah gejolak batin itu, Obama berprestasi di sekolah, mungkin turun dari ibu yang cerdas dan pendobrak kebuntuan politik AS. Ayahnya juga pintar, mendapatkan beasiswa pada era Presiden John F Kennedy.
Para wanita AS, yang menjadi ibu tunggal, menjadikan Obama sebagai pemberi semangat. Tanpa orangtua lengkap, Obama bangkit dan kini jadi capres.
Obama tak mengenal ayahnya secara dekat, tetapi mengingat petuahnya, ”Jangan menangis dan tatap masa depan.” Air matanya mengalir ketika pesawat ayahnya lenyap di Samudra Pasifik saat terakhir kali menemui Obama di Hawaii tahun 1971.
Dengan latar belakang kehidupan yang rasanya ada yang hilang, Obama yang suka bergaul melanjutkan sekolah ke California, kemudian ke Columbia University (New York, lulus 1983) dan Harvard University (Cambridge, lulus 1991).
Pada 1992, ia menikahi Michelle Robinson, lulusan Princeton dan Harvard, dengan latar belakang keluarga harmonis. Mereka dikaruniai dua putri, Malia Ann (lahir 1999) dan Natasha (lahir 2001).
Kehidupannya dengan Michelle, putri seorang pegawai pengairan di Chicago, menutupi babak kegelisahan hidup Obama yang sempat terjerumus narkoba. Adalah pencarian identitas yang membuat Obama memilih tinggal di South Side Chicago.
Merangkul
Ia bukan menemukan jati diri sebagai kulit hitam, tetapi mencoba membuat kehidupan Amerika Serikat tidak dipecah oleh ras. Awalnya, ia tak terpikir menjadi presiden walau ketika sekolah di SD Asisi Jakarta dalam pelajaran mengarang ia menuliskan ingin menjadi presiden.
Sebagai aktivis sosial di Chicago, ia melihat kemiskinan dan ketertinggalan warga kulit hitam. Sistem adalah penyebab semua itu. Untuk mengubahnya, Obama sadar hal itu harus dilakukan melalui gerakan politik.
Pada 2004, ia bertarung menjadi Senat AS dan menang. Hal ini tak lepas dari ketenaran yang diraihnya ketika menyampaikan pidato pada konvensi Partai Demokrat tahun 2004, mengantar John F Kerry sebagai nomine presiden Demokrat.
Dengan pidato yang memuja kebesaran AS, tetapi mengingatkan negara yang kehilangan reputasi global, kekacauan di dalam negeri karena banyak kelompok terpinggirkan, Obama mendadak menjadi selebriti. Banyak yang mengundangnya sebagai pembicara. Dari seorang calon kulit hitam yang tidak dikenal, Obama menjadi Senator AS dengan kesediaan bekerja sama dengan siapa pun, termasuk Senator Republik.
Dari sinilah ia memutuskan diri menjadi capres. Toni Morrison, sastrawan AS peraih Nobel Sastra 1993, menulis, ”Saya mendukung Anda bukan karena kulit Anda.” Morrison, kulit hitam, melihat Obama sebagai figur yang merangkul, jujur, pintar, dan ingin mengubah peta politik AS. Itulah inti kemenangan Obama, ditambah tenaga lapangan yang ditebar membujuk warga AS.
Sumber : Kompas